Tampilkan postingan dengan label baju anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baju anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2009

Tips Belanja Pakaian Dengan Anak

MEMILIH busana muslim anak ternyata gampang-gampang usah. Karena makin besar usia anak, makin beragam pilihan Anda pahami, karena anak pun memiliki selera busana muslim khusus yang kadang-kadang berbeda dengan selera yang diinginkan orangtuanya yang biasanya bikin busana di Penjahit Kebaya. Apalagi untuk busana muslim pesta, atau anak diajak ikut serta dalam acara semiformal dengan klien orangtua. Tentu Anda tidak ingin anak Anda tampil kumuh dan terlihat aneh bukan?

Hal yang paling penting di dalam memilih baju muslim, pastikan anak suka busana muslim dan mau memakainya. Sebenarnya ini aturan mendasar dalam berbelanja busana muslim anak. Kita sendiri juga tak mau mengenakan busana muslim yang tak kita sukai, bukan?

Kesalahan yang sering terjadi, ibu-ibu main beli saja busana anak tanpa memikirkan anaknya suka atau tidak. Padahal, sejak mulai bisa menyatakan pendapatnya, anak sudah bisa menentukan baju apa yang ingin dipakainya. Mubazir kan, kalau beli banyak-banyak tapi selera busana muslim anak hanya tertentu saja.
Jadi, sedapat mungkin ajak dan libatkan anak saat membeli baju muslim. Kalau tak memungkinkan, kenali tokoh kesayangannya, warna favoritnya, gambar yang disukainya. Pokoknya, semua yang berkaitan dengan kesukaannya. Anak punya selera sendiri dan mungkin bisa kita turuti. Kecuali kalau menurut kita tidak pantas, bisa kita arahkan.

Tapi yang terpenting, beli busana muslim atau
Jilbab Anak yang sesuai dengan selera anak sehingga pasti dipakai. Pikirkan juga harga baju muslim anak yang terjangkau bagi pengeluaran Anda. Cari Toko Baju atau tempat menjual baju dengan harga terjangkau. Jangan sampai sudah diajak ke mall, anak ngotot minta sementara dana tak cukup. Ingat, konteks kita adalah bagaimana bisa hemat berbelanja baju anak.

Biarkan anak memilih baju sesuai seleranya. Kalau si kecil bingung, beri alternatif pilihan. Ini juga berlaku jika pilihan anak tak sesuai dengan Anda. Satu ukuran lebih besar. Selama baju itu tidak kedodoran, membeli satu ukuran lebih besar dari badannya sekarang ini, paling tidak bisa membuat baju dipakai sedikit lebih lama. Ingat, satu ukuran saja selisihnya, jangan banyak-banyak.
r

umahmadani.com

Minggu, 06 September 2009

Bisnis Fashion & Baju Jadi Sangat Menguntungkan

Ujun, di umur 17 tahun sudah bisa membeli motor dengan uang hasil jerih payahnya. Dengan motor di tangan, ia semakin bersemangat menggeluti usahanya, jualan pakaian (Baju Hongkong ) di Pasar Beringharjo. Usaha yang menurut dia menyenangkan untuk diselami.

Senin (13/7), ketika ditemui, ponsel Ujun berkali-kali berdering. ”Wah, ini ada kaitannya dengan bisnis. Maklum, Senin hari paling sibuk, hari untuk berkoordinasi dan merampungkan banyak urusan,” ucapnya sembari tertawa.

Lelaki bernama lengkap Ujun Junaedi Salat (43) ini, meski sibuk, tetap ceria selama mengobrol. Beberapa pelanggan yang mampir ke kiosnya siang itu, tak lupa dicandainya.

Begitu si pelanggan berlalu, Ujun melanjutkan obrolan. ”Kios saya —yang berukuran 7 meter persegi—ini sudah nggak muat. Lha, pakaian dan celana sampai saya taruh di pagar dan jalan dalam pasar. Tengok kanan-kiri, belum ada kios yang dijual,” katanya.

Dalam benak Ujun, orientasinya adalah mencari cara mengembangkan usaha. Darah dagang memang mengalir pada diri Ujun karena orangtuanya membuka usaha pembuatan pakaian, walau hanya berskala rumah tangga. Ujun kecil sudah akrab dengan baju, kemeja, dan celana dan Fashion Anak.

Ada cerita di balik ”terdamparnya” Ujun di Yogyakarta. Waktu itu, kakak Ujun mencoba peruntungan nasib dengan membuka kios pakaian di Pasar Beringharjo. Ujun yang baru saja lulus SD ingin ikut dan membantu. Sekalian juga ia belajar bisnis.

Pulang sekolah, dia langsung ke pasar. Lama-kelamaan Ujun ketagihan dan kuliahnya di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Yogyakarta jadi keteteran. Kuliahnya terpaksa ditinggal karena waktu itu dia sudah lepas dari kakaknya dan nekat membuka kios sendiri. Tahun 1993, Ujun pertama kali menempati kios sendiri.

”Sempat awalnya cemas karena takut kios kebakaran. Beberapa pasar, kan, kebakaran. Makanya, sebisa mungkin barang dagangan saya angkut pulang. Lha kalau kebakaran, langsung bangkrut dong, saya. Untunglah pasar ini belum pernah kebakaran,” tuturnya.

Ujun melanjutkan, sandang yang dijual kebanyakan dibeli pedagang dari seluruh DIY untuk dijual lagi. Untuk pembeli eceran malah jarang. ”Mereka kulakan ke saya, beberapa hari sekali, sepekan sekali, atau sebulan sekali. Kalau dihitung-hitung, dalam sehari, saya menjual 100-250 potong. Barang-barang ini adalah produksi pabrik di Jakarta dan Bandung,” ujarnya.

Namun, diingatkan Ujun, di balik angka penjualan tersebut, ada serentetan hal yang dilakukan. Salah satunya adalah ia mesti hati- hati bermitra. ”Kalau nggak cermat, saya bisa ketipu. Beberapa kali saya ketipu. Sekali ketipu, sekian juta bisa amblas. Memang ada yang akhirnya mau membayar, tetapi setelah berbulan-bulan menunggak,” tuturnya.

Namun, lelaki kelahiran Sukabumi 17 April 1968 ini tidak mau patah arang. Namanya saja berbisnis, maka harus siap dengan risiko. Namun, begitu ada kesempatan, harus diambil. Orang-orang baru yang sekiranya bisa jadi mitra bisnis harus dilirik.

Walau cukup mapan dalam bisnis (Souvenir Store), ayah tiga anak yang sekarang Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo (Pagerharjo) ini menyebut peran istrinya amat besar. Karena itu, papan nama di toko Ujun bertuliskan ”AA Jeans M Nur”. Nur adalah panggilan istrinya, Suprinurhayati. Ujun tak keberatan nama tokonya tak bertuliskan nama dirinya.

cetak.kompas.com

Dukung Kampanye Stop Dreaming Start Action Sekarang