Tampilkan postingan dengan label belajar musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar musik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 September 2009

Tips Belajar Menjadi Musisi



Di negeri ini sebagian besar musisi yang sukses dalam industri musik adalah seorang otodidak. Sementara musisi akademis sangat jarang terlihat. Betulkah persoalan otodidak vs akademis adalah persoalan hitam vs putih? Tentu tidak sesederhana itu. Tetapi persoalan itu akan dibahas lain kali. Tetapi kenyataannya adalah bahwa mereka yang mengaku otodidak sebenarnya juga menggunakan ilmu-ilmu akademis meskipun tanpa disadarinya.

Persoalan otodidak-akademis adalah persoalan duluan mana antara ayam-telur. Maka mari singkirkan dahulu perdebatan tentang “ayam-telur” tersebut. Yang lebih penting kali ini adalah bagaimana menjadi seorang otodidak yang sukses? (tentu saja kata sukses disini bukan berarti sukses secara materi tetapi sukses mendapat ilmu
tarian jawa).

Syarat utama untuk seorang otodidak adalah kemauan keras. Karena untuk mendapatkan sebuah ilmu seseorang otodidak harus “mencari sendiri”. Berbeda dengan kondisi dalam sebuah lembaga pendidikan. Apa saja yang harus dipelajari hingga tahapan materi yang mesti dipelajari telah disusun secara sistematis (meskipun banyak juga lembaga pendidikan musik yang sama sekali tidak memiliki sistem pengajaran. Ini parah sekali, lihat disini juga
jual sprei ). Tetapi sesungguhnya materi yang akan dipelajari oleh otodidak maupun akademis adalah sama. Maka kuncinya adalah pahami dahulu “petanya” agar tidak tersesat. Jika belajar dengan buku, bedakanlah antara buku yang memberi ilmu secara “instan” dengan buku yang membahas suatu masalah dari pokok persoalannya. Hal ini hampir sama dengan ungkapan: berilah kail jangan cuma ikan. Dengan pengetahuan yang mengakar membuat banyak persoalan menjadi jauh lebih mudah dipecahkan. Berbeda dengan pengetahuan yang bersifat instan yang hanya memberi satu jawaban untuk satu persoalan.

Lembaga pendidikan seperti
dj school bagi yang belajar musik di lembaga pendidikan, tempat kursus, ataupun private di rumah, tentu bebannya jauh lebih sedikit. Karena materi telah dipersiapkan. Sehingga siswa tinggal berkonsentrasi menerima pelajaran yang diberikan. Tetapi perlu diwaspadai, karena tidak semua lembaga pendidikan musik memiliki sdm dan sistem yang kredibel. Kesuksesan sebuah proses belajar mengajar tergantung dari tiga faktor: pendidik, anak didik, dan sistem pengajarannya.
Jadi belajar di manapun, asalkan ketiga faktornya mendukung, tentu hasilnya akan memuaskan. Persoalannya kemudian adalah, bagai mana cara mengetahui (terutama) seorang pendidik musik dan sistem pengajarannya cukup bagus? Seorang pemain yang bagus belum tentu dapat menjadi pendidik yang bagus. Sebelum memutuskan untuk belajar pada lembaga pendidikan tertentu atau seseorang yang dapat mengajar musik, lebih baik tanyakan dahulu tentang silabus pengajarannya.

Dukung kampanye stop dreaming start action



http://xpressi-music.blogspot.com

Selasa, 15 September 2009

Ajari Anak Bermain Musik

Untuk mengajarkan anak cinta musik, Anda tak perlu harus jadi maestro untuk hal itu. Cukup ciptakan lingkungan yang mencintai musik. Caranya?

* Bernyanyilah bersama si kecil
Setiap kali mendengar nyanyian di radio, tape, atau teve, ikutlah bersenandung. Tak usah khawatir jika suara Anda sumbang, serak, atau tak hapal syairnya. Yang paling penting, buat interaksi musik ke diri anak dan tunjukkan bahwa Anda mencintai musik. Dengan ikut bersenandung atau bersiul, itu sudah merupakan musik merdu di telinga si kecil.

* Hidup bersama musik
Nyalakan radio, tape, atau CD. Biasakan mereka mendengar musik, menari dengan musik, dan ciptakan segala aktivitas dengan musik. Jadikan musik sebagai bagian yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan anak-anak Anda.

* Mainkan segala jenis musik
Anak-anak dapat menerima segala macam jenis musik. Dengan mendengarkan berbagai macam penyanyi dan ragam lagu, berarti Anda sudah melakukan stimulasi untuk menciptakan lingkungan yang musikal. Selain itu, anak juga akan mengetahui kekayaan khasanah musik.

* Ikut Bernyanyi
Bernyanyilah atau siulkan nada-nada awal dari sebuah nyanyian yang dikenal si kecil. Ajak anak untuk melanjutkan atau menyelesaikan kalimat dari lagu tersebut.

* Menonton pertunjukan
Ajak anak menonton pertunjukan atau konser untuk anak-anak seperti operet, balet, atau drama musikal. Dan juga jalan-jalan di Toko Musik

* Sediakan bacaan tentang musik
Bacakanlah cerita tentang riwayat hidup musisi terkenal. Selain isi cerita yang menarik, juga bisa menggugah semangat anak untuk makin mencitai musik.

* Ikutkan Les privat musik atau di sebuah sekolah musik
Daftarkanlah anak pada kursus musik atau olah vokal. Di situ, anak akan dilatih bernyanyi, menari, sambil sekaligus belajar mengenal alat-alat musik (Sewa Sound System) yang sederhana. Jika anda ingin Anak lebih terpantau perkembangannya dapat dengan memilih les privat musik, guru datang ke rumah Anda

* Menari diiringi musik
Hampir tak ada anak yang tak suka menari. Biasanya mereka menyanyi sambil menari, bahkan berteriak sambil menggerak-gerakkan badannya.

* Unjuk Kebolehan
Jika anak Anda belajar main piano (Benda Antik) atau alat musik lainnya, mengapa tidak diminta tampil untuk menunjukkan kebolehannya?
Mintalah ia mendemonstrasikan kebolehannya di hadapan nenek-kakeknya dan keluarga besarnya. Buatlah rekaman video dari pertunjukan ini dan berikan sebagai hadiah spesial kepada kakek dan neneknya.

Dengan cara seperti itu, si anak akan merasa bangga dan terpacu untuk lebih mencintai musik.

kursus-privat.com

Dukung Kampanye Stop Dreaming Start Action Sekarang

Minggu, 30 Agustus 2009

Mari Belajar Musik Klasik Tionghoa

Warisan seni budaya Tionghoa masih banyak yang tak terungkap bahkan sudah hampir punah. Padahal orang Tionghoa berperan dalam pembangunan Batavia. Etnis Tionghoa membawa kebudayaan mereka ke tanah Batavia, yang kemudian menjadi Jakarta, bahkan memengaruhi kebudayaan orang pribumi dan memperkaya folklor Batavia.

Dalam buku Folklor Tionghoa, James Danandjaja, menulis, folklor Tionghoa adalah bagian dari kebudayaan Tionghoa yang tersebar dan diwariskan turun-temurun di antara orang Tionghoa, baik yang berdiam di daratan Tiongkok, maupun yang merantau—khususnya ke Indonesia—secara tradisional dalam versi yang berbeda.


Bentuk-bentuk folklor terdiri atas lisan, sebagian, dan bukan lisan. Di dalamnya akan masuk antara lain legenda, dongeng, adat istiadat, marga, obat-obatan rakyat, permainan rakyat, seni pertunjukan rakyat, makanan dan minuman, seni bangunan, serta
musik dan alat musik rakyat.


Dalam hal ini musik dan alat musik rakyat menjadi salah satu folklor Tionghoa yang sepertinya terlupakan, meskipun beberapa tahun belakangan, keberadaan musik dan alat musik Tionghoa mulai kembali ditampilkan. Alat musik klasik Tionghoa mulai diperkenalkan kepada generasi muda sehingga kini bocah usia sekolah dasar pun sudah bisa mengenal, belajar (misalnya
kursus musik), dan memainkan alat musik yang digunakan nenek moyang mereka lebih dari satu milenium lalu. Salah satu cara tentu melalui sekolah musik (bisa juga dengan kursus musik).


Delapan golongan


Sebelum beranjak ke sekolah musik (
tempat kursus musik / kursus musik anak) khusus alat musik klasik Tionghoa, ada baiknya kita mengenal terlebih dulu alat musik rakyat China. Danandjaja menyebutkan, instrumen musik klasik Tionghoa yang penting antara lain tambur, genta dan giring-giring, erhu, suling, zheng, qin, pipa, serta alat musik dawai.


Suling atau alat musik tiup digolongkan sebagai salah satu dari delapan alat musik dasar Tiongkok. Ada tiga jenis suling, jenis umum (di atau ti), jenis suling kecil (guan/kuan), dan jenis seremoni (xiao/hsiao). Pada alat musik dawai, alat ini terbuat dari kayu dengan dua dawai atau lebih. Cara memainkannya dipetik atau digesek. Ini diajari di
tempat kursus musik seperti di kursus musik anak.


Alat musik dawai yang digesek yang ketika dimainkan diletakkan di pangkuan digolongkan menjadi huqin (biola barbar), menunjukkan bahwa alat ini berasal dari luar China. Masuk ke China pada masa Dinasti Tang dan sudah dimainkan sejak abad ke-13. Huqin yang paling terkenal adalah erhu, dengan dua dawai. Alat ini penting dalam opera Tionghoa. Erhu berbentuk ramping dengan dua dawai yang harus digesek dengan tongkat yang juga bersenar. Senar penggesek ini terbuat dari buntut kuda.


Pipa, jenis alat musik sejenis kecapi. Alat ini bertubuh bulat dengan leher panjang (seperti buah pir) dan berdawai empat. Seperti erhu, alat ini dimainkan secara vertikal di atas pangkuan. Adapun qin adalah alat musik mirip kecapi atau sitar. Alat ini terbuat dari kotak kayu yang dimainkan secara horizontal. Tangan kanan memetik senar sedangkan tangan kiri menekan senar. Ada lagi kecapi dengan 13 senar bernama zhen (cheng).


www.kompas.com


Dukung kampanye
stop dreaming start action sekarang